gambar jalan


Office Only

Office Only

UNITEAK INDONESIA

Dari KLATEN menyapa Dunia
Uniteak adalah Icon anda dalam berbelanja furniture di Klaten
Bergabunglah bersama kami untuk mendapatkan penawaran menarik dari team ahli kami yang berpengalaman
Kami berikan konsultasi design dengan cuma-cuma untuk kepuasan anda.

Sabtu, 05 Juni 2010

Mau Payung Antik dari Klaten........


Mendengar nama kecamatan Juwiring, rasanya memang tidak pernah terlintas kekayaan dan keunikan didalamnya. Tidak ada yang unik saat hanya menyebut nama lokasi tersebut, tanpa menyusuri secara dalam rekam jejak kultural didalamnya.

Juwiring adalah salah satu kecamatan di kabupaten Klaten yang keberadaannya menarik, karena menjadi sentra pengrajin payung hias sebagai perangkat upacara, peneduh dari terik matahari atau hujan dengan bahan baku bambu.

Para pengrajin umumnya tinggal di desa Kewarasan, Tanjung dan Kaniban. Ketiga desa tersebut memiliki warga yang tergantung dengan usaha kerajinan payung.

Kerajinan payung hias ini merupakan seni warisan pada era 1800-an, para pengrajin menjadikan payung hias sebagai tulang punggung ekonomi dan pernah menjadi bagian utama dalam kehidupan di tiga desa tersebut.

Usaha kerajinan payung hias Juwiring tersebut masih ada tanda-tanda kehidupan. Langganan masih ada dimana-mana termasuk langganan besar, keraton Solo dan keraton Yogyakarta.

Tinggal 11 Pengrajin
Waktu kadang menjadi penanda kehancuran, degup kemajuan mulai menggerus kerajinan payung hias Juwiring. Pelan-pelan payung produksi pabrik besar mulai menggerogoti keberadaannya.

Sisa-sisa kedigdayaanya masih terasa di tiga desa tadi, meski tak semarak beberapa tahun silam, kini hanya tinggal 11 perajin. Kemana lainnya? Sebagian besar banting setir menjadi pedagang dan petani atau pengrajin sangkar burung.

Salah seorang pengrajin mengatakan bahwa alasan utama dia masih bertahan adalah karena merasa warisan leluhur yang harus diteruskan dan dilestarikan. Kepercayaan keraton menjadi spiritnya.

Pemilik sanggar payung wisnu mengaku saat ini masih mampu memproduksi 300 unit per bulan, dengan harga berkisar antara 50.000-3,5 juta/unit. Harga per unit tergantung dari ukuran, kalau yang kecil biasanya di jual per kodi dengan harga 100.000. Karya seni asal Klaten ini pun melanglang sampai Bali bahkan menjadi bagian utama dalam ritus Ngaben. Tak ada payung Juwiring ritus itu tak lengkap.

Ada juga pengrajin yang menggunakan bahan dasar kertas semen dalam membuat payung hias, meski rangkanya tetap menggunakan bambu. Seminggu mereka bisa menghasilkan lima kodi.

Proses pembuatan payung hias cukup sederhana, proses paling rumit hanyalah saat memberi ornamen atau melukis bagian atas payung yang terbuat dari kertas semen. Tetapi beberapa pengrajin lebih sering memasarkan payung buatannya tanpa hiasan. Produk tanpa hiasan biasanya dipakai oleh produsen besar.

Meski keberadaanya mulai terpinggirkan, juwiring tetaplah memiliki sebuah catatan sejarah. Bahwa di wilayah ini dulu amat beken dengan payung hiasnya.

Data dan fakta
1. Warisan seni budaya sejak 1800
2. Tiga desa di Juwiring masih memproduksi payung hias
3. Produksi masih dipesan Keraton Jogja dan Solo
4. Ritus ngaben di Bali tak lengkap tanpa payung Juwiring
5. Tinggal 11 perajin karena banyak yang beralih profesi

Sumber gambar : Jabar.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar